Gus Lilur Soroti Integritas Muktamar NU, Tegaskan Bahaya Politik Uang bagi Masa Depan Organisasi

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan datang kian menjadi sorotan sebagai momentum penting bagi arah perjalanan organisasi. Tidak hanya sebagai forum pergantian kepemimpinan, Muktamar dinilai sebagai titik krusial dalam menjaga marwah dan independensi NU di tengah dinamika politik nasional.

Tokoh muda Nahdliyin, HRM. Khallilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang dikenal sebagai Gus Lilur, menegaskan bahwa Muktamar harus menjadi ruang peneguhan nilai, bukan sekadar arena kontestasi kekuasaan. Ia mengingatkan agar NU tidak terjebak dalam praktik-praktik yang bertentangan dengan prinsip dasar organisasi.

Salah satu hal yang menjadi sorotan utama adalah praktik politik uang. Gus Lilur menilai, praktik tersebut tidak hanya melanggar norma agama, tetapi juga merusak fondasi moral NU sebagai organisasi keagamaan.

“Jika Muktamar diwarnai politik uang, maka yang dipertaruhkan bukan hanya proses pemilihan, tetapi kehormatan dan masa depan NU itu sendiri,” ujarnya dalam keterangannya, Minggu (05/04/2026).

Ia menekankan bahwa seluruh elemen yang terlibat dalam Muktamar harus berkomitmen menjaga integritas dengan menolak segala bentuk transaksi politik. Menurutnya, keterlibatan dalam praktik tersebut berpotensi menyeret organisasi ke dalam persoalan hukum serius, termasuk korupsi dan pencucian uang.

Selain itu, Gus Lilur juga mendorong adanya langkah tegas dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam melakukan pembenahan internal. Ia menilai penting bagi organisasi untuk membersihkan diri dari oknum yang mencederai nilai-nilai keulamaan.

Dalam pandangannya, tantangan terbesar NU saat ini adalah menjaga jarak dari kepentingan politik praktis yang semakin intens mendekati organisasi. Ia mengingatkan bahwa NU tidak boleh kehilangan independensinya hanya karena tarik-menarik kepentingan kekuasaan.

“Muktamar harus menghasilkan pemimpin yang lahir dari otoritas keilmuan dan akhlak, bukan dari kekuatan modal atau jaringan politik,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia berharap Konferensi Besar (Konbes) yang akan digelar pada 25 April 2026 dapat menjadi momentum awal untuk melakukan konsolidasi dan pembenahan menyeluruh. Forum tersebut diharapkan mampu mengembalikan NU pada khittahnya sebagai organisasi yang berkhidmat untuk umat dan bangsa.

Menutup pernyataannya, Gus Lilur mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk memperkuat komitmen terhadap nilai amar ma’ruf nahi mungkar sebagai landasan utama dalam menjaga integritas organisasi.

“Masa depan NU sangat ditentukan oleh pilihan hari ini. Jika nilai dijaga, NU akan tetap menjadi pilar moral bangsa. Namun jika diabaikan, maka yang hilang adalah kepercayaan umat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top