Jakarta – Center for Strategic Issues in Indonesian Society (CSIIS) menilai Presiden Prabowo tepat mengosongkan sementara posisi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) pasca reshuffle. Menurut CSIIS, kebijakan ini bisa menghindari hiruk pikuk rivalitas antar tokoh sekaligus memberi ruang pembentukan ekosistem baru di bidang kepemudaan dan olahraga.
“Policy pengosongan ini tepat. Selain menghindari hiruk pikuk baru akibat rivalitas antar tokoh yang berambisi, juga untuk membangun ekosistem keolahragaan, kepemudaan, dan tentu saja ke-polhukam-an,” tulis CSIIS dalam keterangannya.
Khusus untuk Kemenpora, CSIIS menilai Firman Syah Ali adalah figur yang ideal. “Firman kuat sebagai aktivis dan kokoh sebagai birokrat yang menangani olahraga dan pemuda,” lanjut CSIIS.
Isu Firman bakal mengisi kursi Menpora memang tengah ramai di kalangan Nahdliyin. Nama pendiri sekaligus Ketua Komite Olahraga Nahdlatul Ulama (KONU) ini santer diperbincangkan di berbagai platform media sosial, termasuk grup WhatsApp NU.
Firman bukan orang baru di dunia olahraga. Ia juga menjabat Ketua INKADO Jawa Timur, pengurus ISSO, hingga pernah menduduki jabatan Kepala Bidang Olahraga Pemprov Jatim. Kiprahnya banyak berfokus pada pengembangan olahraga bela diri dan pembinaan atlet muda.
Di luar olahraga, Firman memiliki rekam jejak panjang di organisasi NU, mulai dari IPNU, PMII, GP Ansor, LP Ma’arif, hingga ISNU. Ia juga dikenal sebagai aktivis 1998 dan pendiri ormas Nabrak yang vokal menolak radikalisme masuk Madura.
Meski santer disebut-sebut, Firman memilih merendah ketika dikonfirmasi.
“Ah itu hanya rumor. Banyak yang lebih pantas. Itu hak prerogatif Presiden. Tidak baik kalau guyonan seperti ini dibesar-besarkan,” ujarnya singkat.
Kendati demikian, perbincangan di akar rumput NU terus bergulir. Banyak pihak menilai, jika benar dipercaya Presiden, kehadiran tokoh Madura ini bisa memperkuat peran NU dalam pembangunan nasional, terutama di bidang olahraga dan kepemudaan.
