Sutrisno Joko, Babayaga dari Timur, Jurnalis yang Mengguncang Jember

Di lorong gelap kekuasaan, hanya sedikit yang berani melangkah menuju kebenaran. Di Jember, nama Sutrisno Joko disebut dengan dua nada: hormat dan gentar. Para jurnalis muda mengenalnya sebagai mentor keras kepala, para pejabat menyebutnya “orang berbahaya.” Ia bukan pemilik senjata, tapi tulisan-tulisannya lebih mematikan dari peluru. Mereka menyebutnya: Babayaga dari Timur—jurnalis yang datang saat kekuasaan tidur, dan menghantam tanpa ampun.

 

Dari Muncar ke Meja Redaksi

Lahir dan besar di Muncar, Banyuwangi, Sutrisno hijrah ke Jember untuk menempuh studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Jember. Di sana, ia bukan hanya mahasiswa. Ia aktivis, pendobrak, dan orator jalanan. Bersama PMII, ia turun ke jalan saat isu rakyat diabaikan dan anggaran dicuri elite kampus.

Namun setelah toga dilipat, perjuangan Sutrisno tak berhenti. Ia tak mengejar status sebagai guru negeri atau pejabat struktural. Ia memilih jalan yang lebih sunyi: jurnalisme investigasi.

Tulisan-Tulisan Seperti Peluru

Kariernya bermula dari tulisan-tulisan kecil di buletin kampus. Namun cepat, gaya menulisnya tumbuh menjadi senjata. Setiap kalimatnya seperti peluru—tajam, presisi, dan menghujam langsung ke jantung kekuasaan. Tidak ada basa-basi. Tidak ada negosiasi.

Lewat media seperti Kliktimes.com, Sutrisno menurunkan laporan-laporan yang membuat banyak meja bupati terbakar. Seperti artikel berjudul “Raja-raja Asal Dana Desa”, yang membongkar penyelewengan dana hibah di sejumlah kecamatan. Atau “Anak Kandung Proyek Siluman”, yang menyebut keterlibatan keluarga pejabat dalam proyek tender fiktif.

“Dia bukan datang untuk kompromi. Dia datang untuk merobohkan keangkuhan kekuasaan yang congkak,” kata seorang staf khusus Pemkab Jember yang enggan disebutkan namanya.

Tak ada yang tahu sampai kapan Sutrisno akan bertahan di dunia yang makin tak ramah pada jurnalis kritis. Tapi satu hal pasti: setiap kali kekuasaan melenceng, namanya akan disebut. Sebab, selama kata-kata masih bisa ditembakkan seperti peluru, Sutrisno Joko tak akan berhenti menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top