Tes DNA dan Silsilah Keponakan Mahfud MD, Firman Syah Ali Ternyata Keturunan Gengis Khan dan Cicit Rasulullah SAW

Media sosial diramaikan oleh beredarnya infografik silsilah dan unggahan naratif yang menyebutkan nama Firman Syah Ali, tokoh yang dikenal sebagai keponakan Mahfud MD dan tokoh dari Wonocolo, Surabaya, dengan dua garis keturunan besar dalam sejarah dunia, yakni Gengis Khan dan Rasulullah SAW.

 

Infografik yang beredar menampilkan bagan silsilah yang menghubungkan Rasulullah SAW melalui jalur Walisongo dengan trah raja-raja Majapahit, yang kemudian bermuara pada sejumlah tokoh lokal Madura dan Pamekasan, hingga akhirnya disebut bermuara pada R. Abdul Ali (Bhuju’ Dangdang Biring Bulangan Haji) dan Firman Syah Ali.

 

Narasi tersebut juga diperkuat oleh unggahan akun media sosial facebook bernama Raden Linawati tertanggal 14 Januari. Dalam unggahannya, Raden Linawati menyebutkan bahwa berdasarkan hasil tes DNA yang dikaitkannya dengan Sayyid Ajjal Shamsuddin Omar Al-Bukhari, seorang tokoh Muslim berpengaruh yang pernah menjadi gubernur di wilayah Yunnan, China, garis keturunan yang bersangkutan disebut berasal dari trah Gengis Khan, bukan keturunan langsung Rasulullah SAW.

 

“Berdasarkan hasil test DNA Sayyid Ajjal Shamsuddin Omar Al Bukhari, Gubernur Yunnan China adalah keturunan asli Jenghis Khan, bukan keturunan Rasulullah SAW,” tulis Raden Linawati dalam unggahannya.

 

Ia juga menyebut bahwa Firman Syah Ali dan Mahfud MD berada dalam jalur keturunan tersebut, merujuk pada manuskrip dan catatan silsilah yang beredar di kalangan tertentu.

 

Dalam unggahan yang sama, Raden Linawati yang juga mengklaim sebagai ahli nasab mempertanyakan kembali sejumlah manuskrip lama dan catatan nasab yang selama ini diyakini sebagian masyarakat, serta mengaitkannya dengan hasil tes DNA yang menurutnya menunjukkan asal-usul genetik tertentu.

 

Sejumlah pemerhati sejarah dan genealog menilai, klaim yang mengaitkan tokoh-tokoh besar seperti Gengis Khan, Walisongo, Majapahit, dan Rasulullah SAW bukan hal baru dalam diskursus sejarah Asia dan Nusantara.

 

Namun mereka menegaskan bahwa tes DNA hanya dapat menunjukkan kecenderungan genetik dan asal-usul populasi, bukan penetapan nasab keagamaan atau silsilah historis secara definitif.

 

Dalam tradisi Islam, penetapan nasab Rasulullah SAW memiliki standar yang ketat dan umumnya bersandar pada sanad keluarga yang diakui, bukan semata hasil uji genetik modern. Sementara dalam kajian sejarah, silsilah raja-raja dan tokoh penyebar Islam di Nusantara juga membutuhkan pembacaan kritis terhadap sumber tertulis, konteks politik zamannya, serta tradisi lisan yang berkembang.

 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Firman Syah Ali maupun Mahfud MD terkait beredarnya klaim silsilah dan tes DNA tersebut. Isu ini masih berkembang sebagai perbincangan publik di media sosial dan forum informal, tanpa klarifikasi resmi dari pihak yang disebutkan.

 

Para akademisi mengingatkan agar masyarakat menyikapi narasi semacam ini secara proporsional. Diskursus mengenai asal-usul dan silsilah dinilai sah sebagai kajian sejarah dan budaya.

 

Fenomena ini menunjukkan kuatnya daya tarik narasi identitas dan sejarah dalam ruang publik Indonesia, sekaligus menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam membedakan antara klaim personal, tradisi keluarga, dan fakta ilmiah yang telah teruji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top