Panglima Nabrak : Jangan Biarkan Iran Sendirian!

Di tengah eskalasi konflik terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK), Firman Syah Ali atau Gus Firman, menyampaikan kritik keras atas minimnya pernyataan belasungkawa dari pejabat dan tokoh nasional Indonesia atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Situasi di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir kian memanas. Serangan udara dan rudal dilaporkan masih terjadi di sejumlah titik strategis, sementara Iran disebut melancarkan serangan balasan ke target-target yang diklaim terkait kepentingan militer Israel. Ketegangan juga merembet ke jalur pelayaran internasional dan memicu lonjakan harga minyak dunia, menandakan dampak konflik yang tidak lagi bersifat regional semata, tetapi berimplikasi global.

Di dalam negeri Iran, jutaan warga dilaporkan turun ke jalan menggelar doa bersama dan penghormatan terakhir bagi Khamenei. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari, sementara pengamanan diperketat di sejumlah kota besar seperti Teheran, Isfahan, dan Qom. Di sisi lain, sejumlah negara menyampaikan keprihatinan mendalam dan menyerukan penghentian eskalasi demi mencegah perang yang lebih luas.

Dalam konteks itu, Gus Firman mengaku heran karena hampir tidak menemukan pernyataan duka cita dari pejabat negara maupun figur publik Indonesia.

“Saya amati media, nyaris tidak ada pejabat maupun tokoh yang ucapkan duka cita atas wafatnya Sayyid Ali Khamenei. Ada dua kemungkinan, takut diciduk oleh Trump, atau takut dituduh Syiah,” ujar Panglima Nabrak yang memiliki ribuan pasukan milisi tersebut.

Menurutnya, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya seorang kepala negara atau pemimpin tertinggi merupakan sikap kemanusiaan yang seharusnya berdiri di atas kepentingan politik praktis maupun sentimen mazhab keagamaan.

“Iran itu sedang terkena musibah, pemimpin tertingginya meninggal dalam perang. Kenapa hanya MUI dan mantan wapres yang ucapkan duka? Saya Firman Syah Ali, saya Sunni bukan Syiah, saya mengucapkan duka cita mendalam atas wafatnya Sayyid Ali Khamenei. Semoga beliau mulia di sisi Allah SWT dan semoga bangsa yang ditinggalkannya diberi kemenangan,” lanjut Gus Firman yang dikenal sebagai dzurriyah walisongo dan Gengiskhan tersebut.

Gus Firman menekankan bahwa konflik yang terjadi saat ini bukan semata pertarungan geopolitik atau rivalitas ideologi, melainkan juga persoalan kemanusiaan yang berdampak langsung pada warga sipil. Data sejumlah lembaga kemanusiaan internasional menunjukkan adanya peningkatan korban sipil dan kerusakan infrastruktur dasar, termasuk fasilitas kesehatan dan energi.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif dan penduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara tegas dalam isu-isu kemanusiaan global.

“Kepada bangsa-bangsa di dunia, ayo jangan biarkan Iran sendirian, hadirlah walau sekadar doa. Ini masalah kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan universal, bukan masalah antaragama,” pungkas Panglima Nabrak.

Pernyataan Gus Firman menambah dinamika respons masyarakat sipil Indonesia terhadap krisis Timur Tengah. Di tengah ketidakpastian situasi dan potensi perluasan konflik, seruan solidaritas kemanusiaan menjadi pengingat bahwa dampak perang selalu melampaui batas teritorial dan ideologi, serta menuntut sikap etis dari komunitas internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top