Jember – Kasus dugaan penganiayaan terhadap siswa kembali terjadi di lingkungan sekolah dasar madrasah. Peristiwa ini menimpa Mohammad Dzikrullah Hasan, atau akrab disapa Dzikri, siswa kelas 1 MIN 5 Jember yang berlokasi di Desa Sempolan, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember.
Menurut keterangan Hasan Basri, ayah korban, insiden terjadi saat Dzikri dipanggil ke depan kelas untuk mengumpulkan tugas. “Anak saya jatuh, lalu Pak Ghafur yang saat itu menjadi pengajar langsung menginjak dan memukulnya. Anak saya menangis dan pulang, bahkan kini tidak mau sekolah lagi karena trauma,” ungkap Hasan Basri kepada awak media, Sabtu (09/08/25)
Hasan Basri menegaskan, tindakan ini tidak bisa dibiarkan. Ia meminta Kementerian Agama (Kemenag) Jember memberikan sanksi tegas kepada pihak sekolah maupun pelaku. “Kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi. Dari dulu sering ada penganiayaan kepada siswa, tapi tidak pernah ada penindakan,” tambahnya.
Kekecewaan Hasan Basri bertambah setelah pihak sekolah memanggilnya untuk klarifikasi, namun justru meminta agar Dzikri berhenti sekolah. “Seharusnya pihak sekolah minta maaf. Tapi ini malah seakan-akan anak saya yang salah dan diberhentikan,” tegasnya.
Informasi dari sejumlah orang tua murid lain menyebutkan, kasus kekerasan oleh oknum guru di MIN 5 Jember bukan hal baru. Bentuknya beragam, mulai dari memukul hingga menjewer siswa di depan teman-temannya. Namun, sebagian besar insiden tidak pernah dilaporkan secara resmi karena orang tua khawatir anaknya mendapat perlakuan lebih buruk.
Kasus ini menambah daftar panjang dugaan kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan. Pihak keluarga korban berharap adanya langkah cepat dari Kemenag Jember untuk memastikan perlindungan terhadap seluruh siswa dan mencegah peristiwa serupa terulang.
