Pengusaha muda asal Situbondo, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau akrab disapa Gus Lilur, menyerukan agar pemerintah serius menata tata niaga dolomit di Indonesia. Ia menilai, mineral ini berpotensi menjadi aset strategis nasional yang dapat menopang sektor pertanian dan perkebunan, jika dikelola secara benar.
Dalam peninjauannya di Kecamatan Panceng, Gresik, pekan ini, Gus Lilur mendapati cadangan dolomit di lahan konsesinya mencapai kedalaman hingga 50 meter dengan deposit ratusan juta ton. Angkanya, kata dia, jauh lebih menjanjikan dibandingkan komoditas batu bara.
“Kalau dikelola serius dengan pabrik berkapasitas satu juta ton per bulan, penjualannya bisa menembus Rp600 miliar. Marginnya Rp350 ribu per ton, lebih besar dari batu bara,” urainya dengan penuh optimis, Rabu (27/8/2025).
Saat ini, Gus Lilur menguasai 17 blok tambang di Gresik, sebagian dalam proses menuju izin operasi produksi, serta konsesi terbesar di Lamongan. Namun, ia menyoroti praktik tambang ilegal yang justru masih merajalela. Menurutnya, di Panceng saja terdapat 12 pabrik dolomit yang bertahun-tahun beroperasi tanpa tambang resmi.
“Pasokannya jelas dari tambang ilegal. Ironisnya, produk itu masuk ke pasar resmi, bahkan digunakan oleh kementerian dan perkebunan sawit nasional,” ungkapnya.
Ia menegaskan, praktik semacam itu mencederai iklim usaha sekaligus merugikan negara. Karena itu, Gus Lilur mendesak aparat penegak hukum, mulai dari Polri, Kejaksaan hingga KPK, untuk segera turun tangan.
“Kalau suplai ilegal diberantas, saya siap hadir sebagai penyedia dolomit legal untuk kebutuhan nasional. Indonesia butuh pasokan resmi agar manfaatnya bisa kembali ke negara, bukan hanya ke segelintir orang,” tegas Gus Lilur owner dan foundee Astranawa Grup
Menutup keterangannya, Gus Lilur kembali mengingatkan bahwa kekayaan alam harus dikelola dengan amanah.
“Allah sudah memberi negeri ini sumber daya luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengelolanya agar benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat,” pungkasnya.
